Sore itu datang seorang ibu-ibu yang usianya sudah lumayan sepuh ke konter. Di tangannya ada HP Samsung dengan LCD yang pecah.
Ibu: "Mas, bisa ganti LCD HP ini nggak ya?"
Teknisi: "Bisa, Bu. HP Samsung tipe apa ya?"
Setelah dicek...
Teknisi: "Bisa kok, Bu. Cuma kebetulan LCD buat tipe ini lagi habis. Kalau ditinggal, insyaallah besok siang atau sore sudah jadi."
Ibu: "Berapa biayanya, Mas?"
Teknisi: "Rp300 ribu ya, Bu."
Mendengar harga itu, wajah ibu langsung berubah.
Ibu: "Nggak kurang, Mas? Rp200 ribu aja ya..."
Negosiasi pun dimulai.
Saya jelaskan harga part, ongkos pasang, sampai garansi. Ibunya tetap bertahan di angka Rp200 ribu.
Akhirnya setelah tarik ulur cukup lama...
Deal di Rp280 ribu, sudah termasuk garansi 1 minggu dan antigores.
Ibu: "Ya wis, saya tinggal ya, Mas. Besok sore aja saya ambil. Panas banget kalau siang."
Memang benar. Di daerah sini sudah hampir dua bulan nggak turun hujan. Siang rasanya kayak dibakar matahari.
Saya pun membuat nota.
Teknisi: "Ini ya, Bu. Kartunya sama notanya disimpan. Nanti pas ambil dibawa lagi."
Ibu: "Makasih ya, Mas. Besok sore saya ambil. Pokoknya harus sudah jadi."
Teknisi: "Siap, Bu."
---
Keesokan sorenya...
Ibu itu datang lagi.
Ibu: "Sudah jadi, Mas?"
Teknisi: "Sudah, Bu. Silakan dicek dulu."
HP dinyalakan...
Layar normal.
Touch normal.
Semuanya berfungsi.
Lalu saya bilang,
Teknisi: "Jadi totalnya Rp280 ribu ya, Bu."
Tapi jawaban ibu bikin saya langsung bengong.
Ibu: "Lho, Mas... kemarin saya kan sudah DP Rp100 ribu. Masa lupa sih?"
Saya langsung mikir keras.
"Perasaan nggak ada DP..."
Tapi kalau memang saya yang lupa nulis?
Saya buru-buru ambil nota.
Saya cek nota pelanggan...
Nggak ada tulisan DP.
Saya cek nota putih yang saya simpan...
Sama.
Kosong.
Biasanya setiap ada DP, sekecil apa pun, pasti langsung saya tulis.
Teknisi: "Maaf ya, Bu... di nota kok nggak ada tulisan DP ya."
Ibu: "Ya mungkin sampean lupa nulis. Saya ingat betul kok ngasih DP."
Nah lho...
Kalau memang saya yang lupa, berarti salah saya.
Kalau ternyata tidak, saya juga nggak enak nuduh pelanggan.
Untungnya...
Saya ingat satu hal.
Di konter ada CCTV.
Teknisi: "Bu, kira-kira kemarin datang jam berapa ya? Biar saya cek CCTV. Biar sama-sama enak."
Ibu: "Cek aja, Mas. Sore pokoknya... jam berapanya lupa."
Saya lalu buka galeri.
Untung kemarin sempat foto kondisi HP sebelum dikerjakan.
Dari waktu fotonya ketahuan sekitar jam lima sore.
Langsung saya putar rekaman CCTV.
Saya bahkan mengajak ibu ikut melihat.
Teknisi: "Sini, Bu. Kita lihat bareng-bareng aja."
Video pertama...
Nggak ada.
Saya ulang lagi dari awal.
Pelan-pelan.
Dari ibu datang...
Ngobrol...
Saya bikin nota...
Saya kasih nota...
Dan...
Ibu langsung pergi.
Nggak ada adegan menyerahkan uang sama sekali.
Ibu ikut terdiam.
Beberapa detik suasana benar-benar hening.
Lalu ibu berkata pelan...
Ibu: "Lho... kok video pas saya ngasih uang nggak ada ya, Mas?"
Saya cuma bisa tersenyum.
Teknisi: "Maaf ya, Bu... kayaknya memang belum ngasih DP. Soalnya kalau ada DP, saya pasti langsung tulis di nota."
Ibu kembali diam.
Beberapa saat kemudian beliau berkata...
Ibu: "Ya sudah, Mas... saya ambil uang dulu ya..."
Saya mengangguk.
Dalam hati berpikir...
"Alhamdulillah ada CCTV. Kalau nggak, mungkin saya sendiri yang jadi ragu sama ingatan saya."
Eh...
Beliau lanjut ngomong.
Ibu: "Tadi saya memang belum bawa uang. Kesini cuma mau lihat HP-nya sudah jadi apa belum..."
Saya cuma saling pandang dengan ibu...
Sambil menahan senyum.
Bersambung...
Salam kisah teknisi

إرسال تعليق