“CIIITTTTT…”
Suara rem becak terdengar dari depan konter.
Saya lihat keluar…
Ada seorang bapak yang usianya sudah senja, sedang mengayuh becak kesayangannya.
Di atas becak itu ada tiga penumpang.
Istri dan dua anaknya.
Sebuah keluarga sederhana yang sore itu datang bersama-sama.
Becak berhenti tepat di depan konter.
Ciiittt…
Istrinya langsung turun dan menghampiri saya.
Ibu:
“Mas… HP anak saya tombolnya keras. Bisa dibenerin nggak? Sekarang malah mati.”
Teknisi:
“Oh, bisa, Bu. Coba saya lihat dulu.”
Saya ambil HP-nya dan saya cek.
Ternyata tombolnya memang sudah patah.
Switch on-off-nya juga sudah rusak.
Teknisi:
“Ini tombolnya sudah patah, Bu. Switch power-nya juga rusak. Paling harus ganti dua-duanya.”
Ibu:
“Berapa, Mas?”
Teknisi:
“Paling kena 40 ribu, Bu.”
Ibu itu diam sebentar.
Lalu keluar jurus wajibnya…
Ibu:
“30 ribu aja nggak bisa, Mas?”
Saya cuma senyum.
Ibu-ibu kalau belum nawar kayaknya belum afdol. 😅
Teknisi:
“Waduh, Bu… 40 ribu itu sudah murah. Kalau normalnya, ganti dua-duanya saya hargai 70 ribu. Ini sama Ibu saya kasih 40 ribu saja.”
Belum sempat ngobrol panjang, bapaknya menghampiri.
Bapak:
“Berapa, Bu?”
Ibu:
“40 ribu, Pak.”
Bapaknya cuma mengangguk.
Nggak banyak tanya.
Bapak:
“Sudah… ganti saja.”
Begitulah biasanya pemikiran seorang bapak.
Yang penting anaknya bisa memakai HP lagi.
Yang penting masalahnya selesai.
Ibu:
“Ya sudah, Mas. Kerjain saja.”
Teknisi:
“Bentar ya, Bu. Saya cek dulu semuanya.”
HP saya colok ke charger.
Tapi baru beberapa detik…
Saya malah melihat sesuatu yang bikin saya harus bilang lagi.
“Lho… Bu.”
Ibu:
“Kenapa, Mas?”
Teknisi:
“Ini LCD-nya juga sudah nggak normal. Lihat, ada garis-garisnya.”
Ibu langsung melihat layar.
Ibu:
“Kalau ganti LCD berapa, Mas?”
Teknisi:
“Kalau HP ini paling sekitar 230 ribu, Bu.”
Ibu langsung menggeleng.
Ibu:
“Jangan, Mas…”
Dia melihat ke arah becak.
Anaknya masih duduk di sana.
Ibu:
“Yang itu saja dulu. Yang penting HP-nya bisa dinyalain. Ditinggal saja ya, Mas.”
Teknisi:
“Bisa, Bu. Tapi Minggu saya libur. Paling Senin baru bisa diambil.”
Ibu tersenyum.
Ibu:
“Ya nggak apa-apa, Mas. Senin atau Selasa juga nggak apa-apa.”
Lalu ibu itu berkata pelan…
“Uangnya juga belum ada soalnya…”
Saya cuma mengangguk.
Nggak tahu kenapa, kalimat sederhana itu terasa cukup dalam.
Teknisi:
“Oh iya, Bu. Ini notanya. Nanti pas ambil jangan lupa dibawa ya, Bu.”
Ibu:
“Ya wes, Mas. Makasih ya.”
Teknisi:
“Sama-sama, Bu. Hati-hati.”
Ibu itu kembali naik ke becak.
Bapaknya mulai mengayuh.
Perlahan…
Ciiittt…
Becak itu meninggalkan konter.
Pelan…
Tapi pasti.
---
Hari Senin datang.
Saya sempat beberapa kali melihat ke depan konter.
Menunggu becak itu datang.
Tapi sampai sore…
Nggak ada.
Mungkin belum sempat.
Atau mungkin memang belum ada uang untuk mengambil HP-nya.
Sampai akhirnya hari Selasa…
Dari kejauhan saya kembali mendengar suara yang sudah saya kenal.
“Ciiittt…”
Becak itu datang lagi.
Ibu langsung turun dan menghampiri saya.
Ibu:
“Mas… HP-nya sudah jadi belum?”
Teknisi:
“Oh iya, Bu. Sudah jadi.”
Saya ambil HP itu dari etalase dan saya kasih lihat.
“Ini, Bu. Sudah.”
Ibu melihat HP-nya sebentar.
Tapi kemudian berkata…
“Ya sudah kalau sudah jadi… besok saja saya ambilnya.”
Dari atas becak, anak kecilnya sudah mulai ramai merengek.
Kelihatannya sudah nggak sabar ingin HP-nya kembali.
Tapi hari itu mereka belum membawanya pulang.
Teknisi:
“Oh iya, Bu. Nggak apa-apa.”
Ibu naik lagi ke becak.
Bapaknya kembali mengayuh.
Dan mereka pergi.
---
Besoknya…
Sesuai perkataan ibu kemarin, becak itu datang lagi.
Lengkap.
Bapaknya.
Ibunya.
Dan dua anaknya.
Persis seperti ketika pertama kali datang.
Ibu langsung turun.
Ibu:
“Mas, sekarang HP-nya saya ambil ya. Sudah jadi kan?”
Teknisi:
“Sudah, Bu. Ini.”
Saya serahkan HP itu.
Lalu saya ingatkan,
“Nanti sampai rumah langsung dicas ya, Bu. Baterainya lemah banget. Kemarin saya lupa ngecas.”
Ibu masih memastikan.
Ibu:
“Tapi sudah jadi kan, Mas?”
Teknisi:
“Sudah, Bu. Kalau nanti di rumah ternyata ada masalah lagi, bawa ke sini saja. Saya kasih garansi satu minggu.”
Ibu mengangguk.
Lalu memasukkan HP itu ke tangannya.
Ibu:
“Ya sudah… makasih ya, Mas.”
Kemudian ibu mengeluarkan uang dari dompetnya.
Bukan selembar uang besar.
Dia menyerahkan uang 20 ribuan, bercampur uang receh dan beberapa keping koin.
Saya terima.
Saya gak hitung uang itu, la.ngsung masukin ke laci
Saya nggak banyak bertanya.
Karena dari awal pun saya sudah tahu…
mungkin bukan karena mereka ingin menunda membayar.
Memang mungkin hanya segitu yang mereka punya hari itu.
Teknisi:
“Sudah, Bu. Makasih.”
Ibu:
“Iya, Mas…”
Ibu itu kemudian naik kembali ke becak.
Dan begitu HP sampai ke tangan anaknya…
anak kecil itu langsung bersorak kegirangan.
Senyumnya lepas.
Seolah-olah baru mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
Becak itu pun mulai berjalan.
Pelan…
Meninggalkan konter.
Saya berdiri melihat mereka sampai agak jauh.
Bapaknya kembali mengayuh becaknya.
Usianya sudah senja.
Bahu dan tenaganya mungkin sudah tak sekuat dulu.
Tapi dia masih mengayuh.
Masih membawa istri.
Masih membawa dua anak.
Masih berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dan saat itu saya sadar…
Kita terlalu sering mengukur perjuangan seseorang dari apa yang terlihat.
Padahal ada orang-orang yang setiap hari berjuang tanpa pernah mengeluh.
Tidak punya kendaraan mewah.
Tidak punya uang berlebih.
Bahkan mungkin untuk membayar 40 ribu saja harus menunggu beberapa hari.
Tapi tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Bapak itu mungkin sudah tua…
tapi tanggung jawabnya belum pernah tua.
Becaknya boleh tua.
Tenaganya boleh berkurang.
Tapi cintanya kepada keluarga…
masih terus mengayuh.
Pelan…
Sedikit demi sedikit…
Sampai keluarganya bisa tersenyum. ❤️
Salam Kisah Teknisi

Posting Komentar