Memori Penuh Bisa Membuat Hp Tidak Menyala

 Si anak yang dari tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. (Part 2) 


Mungkin dia mulai sadar…




Tadi awalnya cuma masalah memori penuh.


Sekarang HP-nya bahkan sudah nggak mau terbaca komputer sama sekali.


Bapaknya melihat ke arah saya.


Bapak:

“Terus gimana, Mas? Enaknya diapain?”


Teknisi:

“Kalau dari kondisinya, paling harus kita direct, Pak. Kemungkinan kita harus bongkar dan cek bagian EMMCnya.”


“Kalau memang eMMC-nya sudah lemah, ya kemungkinan harus ganti eMMC.”


“Tapi saya kasih tahu dari awal, Pak… kalau prosesnya gagal, ada risiko HP malah mati total.”


Bapaknya langsung terdiam sebentar.


Kemudian bertanya dengan nada penasaran.


Bapak:

“Kalau biayanya berapa, Mas?”


Teknisi:

“Kalau direct, kurang lebih 200 ribuan, Pak.”


“Kalau sampai harus ganti eMMC, bisa sekitar 400 ribuan, kurang lebih.”


Belum selesai saya menjelaskan…


Bapaknya langsung melihat ke anaknya.


Bapak:

“Nah tuh… DENGERIN...”


Saya lihat anaknya kembali menunduk.


Saya sendiri cuma bisa diam.


Kadang orang tua kalau sudah ngomel memang terdengar keras.


Tapi kalau dipikir-pikir…


Bapaknya juga bukan sedang marah karena HP-nya.


Dia mungkin cuma kesal karena dari awal sudah mengingatkan.


Teknisi:

“Jadi gimana, Pak? Mau kita coba?”


Bapak:

“Sudah gini aja, Mas.”


“Kalau biayanya di bawah 200 ribu, kerjain.”


“Tapi kalau sudah lebih dari itu, mending nggak usah.”


“Beli HP lagi saja.”


Saya mengangguk.


Teknisi:

“Oke, siap Pak. Tapi ini ditinggal ya. Paling sehari dua hari.”


Bapak:

“Ya nggak apa-apa.”


Kemudian bapaknya ngomong pelan…


“Uangnya juga belum ada kok, Mas.”


Saya cuma tersenyum.


Teknisi:

“Siap, Pak. Tak bikin nota dulu.”


HP saya terima.


Dan setelah bapak sama anaknya pulang…


Saya mulai berperang.


---


Saya coba koneksikan lagi.


Kadang…


KONEK.


Beberapa saat kemudian…


PUTUS.


Coba lagi.


Konek…


Putus lagi.


Saya mulai curiga.


“Wah… jangan-jangan eMMC-nya memang sudah lemah.”


Saya coba berbagai cara.


Begitu masuk tahap memasukkan file…


ERROR.


Ulang lagi.


ERROR.


Coba metode lain…


ERROR lagi.


Sudah seperti lampu merah di jalan.


RAPOT MERAHHH… 😭


Saya coba lagi.


Masih gagal.


Dicoba dengan cara lain…


Tetap gagal.


HP kadang terdeteksi, kadang menghilang.


Seperti sedang memberi harapan…


tapi setiap kali mau diselamatkan, malah kabur lagi.


Saya sampai beberapa kali berpikir:


“Masih bisa nggak ini diselamatkan?”


Tapi setelah berbagai cara dicoba…


Tetap sama.


Akhirnya saya harus menerima kenyataan.


Kayaknya memang sudah mentok.


Saya simpan kembali HP-nya dan menunggu bapaknya datang.


---


Tiga hari kemudian…


Siang itu bapaknya datang lagi.


Kali ini bersama anak gadisnya.



Masih memakai seragam SMA.


Saya langsung tahu mereka datang untuk mengambil keputusan soal HP itu.


Bapak:

“Mas… sudah jadi belum?”


Saya menggeleng pelan.


Teknisi:

“TETEP gak bisa, Pak.”


“Sudah saya coba beberapa cara, tapi tetap gagal.”


“eMMC-nya memang sudah lemah. Kadang bisa konek, kadang nggak. Begitu masuk file malah gagal terus.”


“Kalau mau lanjut, kemungkinan besar harus ganti eMMC.”


Bapaknya langsung menghela napas.


Bapak:

“Kalau gitu nggak usah, Mas.”


“Mending beli lagi saja.”


“Takutnya kalau dipaksakan malah nggak awet.”


Teknisi:

“Siap, Pak.”


Si anak berdiri di samping bapaknya.


Kali ini dia nggak banyak bicara.


Entah mungkin lega karena nggak jadi keluar biaya besar…


Atau mungkin sedih karena HP yang selama ini dipakai sekolah memang sudah nggak bisa diselamatkan.


Tiba-tiba bapaknya bertanya.


Bapak:

“Sampeyan punya HP second-second murah nggak, Mas?”


Teknisi:

“Ada sih, Pak.”


“Yang murah ada.”


Bapak:

“Berapa?”


Teknisi:

“Paling murah ada 350 ribu, Pak. Kalau  sama bapaknya sih"


Bapaknya langsung semangat.


Bapak:

“RAM berapa, Mas?”


Teknisi:

“RAM-nya kecil, Pak.”


“2/32. Samsung A10.”


Bapaknya langsung diam.


Terus nyeletuk…


Bapak:

“Kirain RAM 6/128 harga segitu…”


Saya langsung menatap beliau.


Teknisi:

“Waduh, Pak… kalau RAM 6/128 harga 350 ribu, saya juga mau beli sendiri. 😭”


“Kalau yang begitu mah sekitar sejutaan lebih, Pak, kalau dapat.”


Bapaknya masih mencoba nego.


Bapak:

“800 ribu kalau ada nanti kabarin ya, Mas.”


Saya menghela nafas dan mengangguk. dalam hati "Ya kalau ada " 


Teknisi:

“Siap, Pak. Kalau ada yang cocok saya kabarin.”


Bapaknya kemudian mengajak anaknya pergi.


Saya lihat si anaknaik motor di belakang bapaknya.


Masih dengan seragam SMA.


HP lamanya sudah nggak bisa dipakai.


Tapi mungkin yang lebih berat bukan kehilangan HP-nya…


Melainkan bagaimana besok dia bisa tetap mengikuti sekolah tanpa HP itu.


Dan dari kejadian ini saya jadi kepikiran satu hal…


sebuah kerusakan HP bukan terjadi dalam satu malam.


Peringatan memori penuh sudah muncul berkali-kali.


Tapi karena masih bisa dipakai…


Kita sering memilih mengabaikannya.


Sampai akhirnya HP benar-benar berhenti bekerja.


Dan saat itu…


Yang harus diperbaiki bukan cuma HP-nya.


Tapi keadaan yang ikut bergantung pada HP tersebut.


BERSAMBUNG…


Salam kisah teknisi

0 تعليقات

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم