NIATNYA MAU BENERIN HP, TAPI UJUNG-UJUNGNYA MALAH BIKIN HATI IKUT GAK ENAK…
Siang itu, seorang bapak datang ke konter dengan langkah tergesa.
Wajahnya kelihatan capek. Bukan capek karena kerja… tapi seperti orang yang pikirannya sedang penuh.
Bapak:
“Mas… HP anak saya kenapa ya? Ada suaranya, tapi nggak ada gambar.”
Teknisi:
“Coba saya cek dulu pak. Awalnya kenapa memang?”
Bapaknya menarik napas sebentar.
Bapak:
“Jadi kemarin anak saya sakit, mas. Dibawa ke rumah sakit, terus harus operasi.”
“Waktu anak saya dioperasi, HP-nya saya yang pegang. Saya taruh di saku baju.”
“Saya nggak sempat lihat HP sama sekali. Fokus nunggu anak.”
“Dari siang sampai sore…”
“Begitu selesai operasi, saya ambil HP-nya.”
“Lho… kok layarnya mati.”
“Padahal nggak jatuh, nggak kebanting.”
Saya coba nyalakan.
Benar.
HP masih hidup. Ada suara. Tapi layar gelap total.
Teknisi:
“Kena air nggak pak?”
Bapak:
“Nggak mas. Dari tadi ada di saku.”
Saya cek sebentar.
Teknisi:
“Mesinnya masih hidup pak. Tapi harus dibongkar dulu buat memastikan masalahnya dari LCD atau jalur mesin.”
“Kalau cuma jalur, kemungkinan sekitar Rp200–250 ribu.”
“Tapi kalau LCD… tipe ini lumayan mahal.”
Bapaknya langsung mengangguk.
Bapak:
“Ya sudah mas, ditinggal saja dulu. Nanti malam saya ke sini lagi.”
Sebelum pergi, bapaknya mengeluarkan uang.
Bapak:
“Ini saya DP dulu Rp50 ribu ya mas.”
Teknisi:
“Siap pak.”
Bapaknya pergi.
Saya mulai bongkar.
Karena HP belum pernah dibuka, saya harus ekstra hati-hati.
Backdoor dibuka pelan-pelan.
Satu per satu dicek.
Jalur LCD…
normal.
Tegangan…
normal.
Mesin…
normal.
Saya mulai curiga.
“Jangan-jangan LCD-nya.”
Masalahnya stok LCD tipe ini sedang kosong.
Jadi belum bisa langsung memastikan.
Malamnya bapaknya datang lagi.
Bapak:
“Gimana mas?”
Teknisi:
“Sudah saya cek pak. Jalur dan tegangan normal.”
“Cuma saya belum bisa pastikan LCD-nya karena stoknya sedang kosong.”
“Besok kalau sudah ada LCD, baru ketahuan.”
Bapaknya kemudian bertanya pelan.
Bapak:
“Kalau LCD-nya berapa mas?”
Teknisi:
“Kalau OLED sekitar Rp800 ribuan lebih pak.”
“Kalau yang biasa sekitar Rp350 ribuan.”
Bapaknya terdiam.
Kemudian mengambil HP-nya dan menelepon anaknya.
Saya nggak mendengar jelas pembicaraannya.
Cuma beberapa kali terdengar…
“Iya… iya…”
Beberapa menit kemudian bapaknya menutup telepon.
Dia kembali ke depan saya.
Kali ini suaranya lebih pelan.
Bapak:
“Mas… punten.”
Teknisi:
“Iya pak?”
Bapak:
“HP-nya jangan dibenerin dulu.”
Saya langsung mengangguk.
Teknisi:
“Oh, iya pak. Nggak apa-apa.”
Bapaknya kemudian berkata:
“Anak saya bilang jangan dulu, mas.”
“Baru keluar banyak uang buat rumah sakit.”
“Takut uangnya kurang.”
“Katanya HP nanti saja… yang penting buat berobat dulu.”
Entah kenapa…
kalimat terakhir itu bikin saya langsung diam.
Tadi saya cuma melihat sebuah HP yang rusak.
Sekarang saya baru sadar…
di balik HP itu ada seorang anak yang sedang sakit.
Ada bapak yang dari kemarin duduk menunggu operasi.
Ada biaya rumah sakit yang harus dipikirkan.
Dan ada orang tua yang mungkin sebenarnya ingin memperbaiki HP anaknya…
tapi harus memilih mana yang lebih penting.
Saya kemudian mengambil nota.
Teknisi:
“Pak, nggak apa-apa.”
“Ini HP-nya saya kembalikan.”
“DP Rp50 ribunya juga saya kembalikan.”
Bapaknya langsung menolak.
Bapak:
“Lho, nggak usah mas. Tadi kan sudah dibongkar.”
Saya jawab:
“Nggak apa-apa pak.”
“Belum ada penggantian part.”
“Bapak bawa saja HP-nya.”
“Uangnya dipakai buat anak dulu.”
Bapaknya terdiam.
Kemudian mengambil HP-nya.
Tangannya menggenggam HP itu erat.
Bapak:
“Maaf ya mas… jadi merepotkan.”
Teknisi:
“Nggak merepotkan kok pak.”
“Yang penting anak bapak cepat sehat.”
“HP mah kapan-kapan bisa diperbaiki.”
Bapaknya mengangguk.
Sebelum pergi, dia sempat berkata:
“Kalau nanti sudah ada rezeki, saya balik lagi ke sini, mas.”
Saya cuma jawab:
“Insyaallah pak. Saya tunggu.”
Bapaknya kemudian pergi.
Saya lihat dari depan konter sampai beliau benar-benar hilang dari pandangan.
Dan malam itu saya belajar lagi…
Nggak semua pelanggan datang membawa uang.
Ada yang datang membawa masalah.
Ada yang datang membawa harapan.
Ada juga yang datang sambil menyembunyikan kekhawatiran di balik kalimat sederhana:
“Mas, HP anak saya kenapa?”
Padahal yang sebenarnya sedang dia pikirkan mungkin bukan HP.
Tapi…
“Besok biaya berobat anak saya dari mana?”
Jadi kalau suatu hari ada pelanggan batal servis karena katanya mahal…
jangan buru-buru menganggap dia cuma nggak punya uang.
Kita nggak pernah tahu…
mungkin uang yang ada di sakunya sedang dia simpan untuk menyelamatkan orang yang paling dia sayang.
Semoga anak bapak itu segera sehat.
Dan semoga rezekinya dilancarkan.
Karena HP bisa diperbaiki nanti.
Tapi orang yang kita sayang… nggak boleh sampai kehilangan kesempatan untuk sembuh. 🙏
Salam Kisah Teknisi


إرسال تعليق