SERVIS HP, BONUS UJIAN KESABARAN ðŸ˜
Malam itu, tiba-tiba datang seorang mas-mas yang kemarin pernah bikin saya geleng-geleng kepala.
Kemarin dia sempat mark up harga servis ke ibunya biar ada uang lebih buat dia.
Sekarang datang lagi…
Tapi kali ini nggak sendirian.
Dia datang bersama cewek cantik. 😅
Mas:
“Mas, ini coba cek HP cewek saya.”
Teknisi:
“Emang kenapa, Mas?”
Mas:
“Kalau dicas harus digoyang-goyang dulu baru keluar gambar petir. Tapi kalau ditaruh, petirnya hilang lagi.”
Teknisi:
“Coba saya cek dulu ya…”
Saya colok charger.
Benar saja.
Harus digoyang sedikit baru masuk.
Ditaruh… hilang lagi.
Teknisi:
“Nah, ini kemungkinan konektor casnya longgar atau sudah ngangkat. Paling ganti konektor casnya, Mas.”
Mas:
“Berapa, Mas?”
Teknisi:
“Lima puluh ribu.”
Mas:
“Ya sudah, ganti saja, Mas.”
Kemudian dia penasaran.
Mas:
“Tapi kok bisa sampai begitu ya, Mas? Padahal baru diganti juga. Paling baru seminggu.”
Saya langsung kasih penjelasan.
Teknisi:
“Biasanya sih HP sering dipakai sambil dicas. Kabelnya sering ketarik-tarik. Coba saja tanyain sama pacarnya.”
Si Mas langsung menoleh.
Mas:
“Iya, nggak, Dek? Kamu sering begitu?”
Ceweknya malah senyum.
Cewek:
“Hehehe… iya, sering juga. Kan sering chatingan sama kamu.”
Mas:
“Hehehe… dasar…”
Ceweknya langsung mukul-mukul manja.
Cewek:
“Hihihi…”
Saya yang melihat dari belakang meja cuma bisa senyum.
Dalam hati:
“Ini servis HP apa saya lagi nonton sinetron malam hari?” ðŸ˜
Mas:
“Ditungguin bisa ya, Mas?”
Teknisi:
“Bisa. Paling sekitar 15 menit.”
Langsung saya bongkar HP mereka.
Niatnya mau fokus kerja.
Tapi ternyata ujian kesabaran baru dimulai.
Mereka ngobrol terus di depan konter.
Kadang pegangan tangan.
Kadang bercanda.
Kadang tebak-tebakan.
Saya yang lagi solder cuma bisa pura-pura nggak dengar.
Sampai tiba-tiba si mas bertanya…
Mas:
“Dek… malam apa yang paling panjang?”
Cewek:
“Malem apa ya? Semua malam kan sama…”
Mas:
“Coba tebak.”
Cewek:
“Ahh… nggak tahu. Pusing.”
Si mas langsung mengeluarkan jurus gombalnya.
Mas:
“Malam tanpa wajahmu… setiap detik terasa lambat, menanti pertemuan kita.”
Ceweknya langsung senyum.
Cewek:
“Huuu… so sweet…”
Saya di meja servis:
“Ya Allah… konektornya belum selesai, tapi hati saya sudah mulai konslet.” ðŸ˜
Belum selesai.
Mas:
“Ada lagi nih satu tebak-tebakan.”
Cewek:
“Iya, apa?”
Mas:
“Apa yang nggak pernah berubah walaupun waktu berlalu?”
Cewek:
“Air?”
Mas:
“Salah.”
Cewek:
“Matahari?”
Mas:
“Salah lagi.”
Cewek:
“Udah deh, aku nyerah. Apa coba?”
Si mas menatap ceweknya sambil senyum.
Mas:
“Perasaanku ke kamu. Hari ini sama seperti kemarin, besok sama seperti hari ini. Tetap tulus, tetap buat kamu.”
Wajah ceweknya langsung merah.
Cewek:
“Halah… gombal!”
Saya cuma senyum-senyum sendiri.
Dalam hati:
“Gombal sih gombal… tapi kenapa harus di depan konter saya?” 😂
Kalau di dekat saya ada ember, rasanya pengen saya guyur mereka berdua.
Bukan karena marah.
Cuma…
BIAR NGGAK TERLALU MESRA DI DEPAN TEKNISI JOMBLO. ðŸ˜
Akhirnya saya percepat pekerjaan.
Bukan karena takut telat…
Tapi karena sudah nggak kuat lihat kemesraan mereka.
Setelah selesai, saya panggil.
Teknisi:
“Mas, ini sudah jadi.”
Mas:
“Sudah dicek belum, Mas?”
Teknisi:
“Sudah. Sudah dicas juga. Sudah saya goyang-goyang, sekarang nggak putus nyambung lagi.”
Mas:
“Lima puluh ribu ya, Mas?”
Teknisi:
“Iya.”
Dia bayar.
Mas:
“Nih, Mas. Makasih.”
Teknisi:
“Makasih juga.”
Mereka akhirnya pergi.
Saya lihat motor mereka menjauh dari depan konter.
Dalam hati saya:
“Alhamdulillah… akhirnya selesai juga penderitaan ini.” 😂
Baru saja suasana kembali tenang, tiba-tiba Mbah, tetangga sebelah yang jualan ketoprak, nyeletuk.
Mbah:
“Mereka serasi kayanya ya, Mas.”
Teknisi:
“Iya, Mbah. Serasi banget… sampai bikin iri.”
Mbah ketawa kecil.
Mbah:
“Zaman saya muda dulu nggak pernah begitu, Mas. Ketemu orang yang kita suka saja nggak berani terang-terangan. Malah kalau ketemu, cari jalan lain.”
“Sekarang anak muda malah gandengan tangan. Terus apa itu bahasanya… makan bareng…”
Teknisi:
“Ngdate, Mbah.”
Mbah:
“Nah, iya itu! Ngdate.”
Saya cuma mengangguk sambil kembali merapikan meja servis.
Teknisi:
“Wes Mbah, sing penting kerja. Rezeki, jodoh, pati iku wes ana sing ngatur. Kita tinggal nglakoni.”
Mbah mengangguk.
Sementara pasangan tadi sudah semakin jauh dari konter.
Dan saya?
Kembali sendirian…
Bersama solder, HP rusak, dan perjuangan mencari rezeki.
Nasib teknisi… servis HP dapat uang, servis hati belum ada pasiennya. 😂
Salam Kisah Teknisi



Posting Komentar