Jangan Bawa HP ke Kamar Mandi Klo Tidak Mau Kecebur Air

UANG RP100 RIBU MILIK IKHSAN

Datang seorang anak bernama Ikhsan ke konter.

Ikhsan adalah seorang anak yatim. Hari itu dia datang sambil membawa HP yang dimasukkan ke dalam plastik kresek. Di tangannya juga ada uang Rp100 ribu yang terus dia pegang.

Ikhsan:
“Assalamualaikum, Mang...”



Teknisi:
“Wa'alaikumsalam... iya, gimana, Dek?”

Ikhsan:
“Ini HP saya kena air, Mang... nggak bisa nyala.”

Teknisi:
“Coba sini, MaMang cek dulu.”

Saya langsung cek HP-nya.

Ternyata benar, HP dalam kondisi tidak ada tegangan dan beberapa jalurnya banyak yang konslet.

Nggak banyak tanya, langsung saya kerjakan.

Setelah dicek satu-satu, ternyata tombolnya konslet. Saya ganti tombolnya sampai dua kali karena masih bermasalah.

Bagian jalur cas juga konslet. Saya bersihkan dan rapikan kembali jalurnya.




Setelah itu HP mulai nyala, tapi masih restart-restart.

Saya cek lagi sampai akhirnya ketemu masalahnya. Fuse juga bermasalah, akhirnya saya benahi.

Alhamdulillah, HP akhirnya bisa normal kembali.

Sambil menunggu HP selesai dan baterainya cukup untuk dites, saya ngobrol sama Ikhsan.

Teknisi:
“Bisa-bisanya kena air begini, gimana ceritanya, Dek?”

Ikhsan:
“Anu, Mang... jadi masuk kamar mandi bawa HP.” 😁😁

Teknisi:
“Lah, ngapain bawa HP ke kamar mandi?”

Ikhsan:
“Ya sambil main game atau nonton YouTube, Mang...” 😁😁

Saya cuma bisa senyum.

Teknisi:
“Ini kena airnya kapan?”

Ikhsan:
“Sudah lama sih, Mang... cuma baru ada uang sekarang.”

Saya langsung penasaran.

Teknisi:
“Dapat uang dari mana?”

Ikhsan kemudian cerita.

Ikhsan:
“Kemarin ada tetangga yang hajatan, Mang. Jadi saya yang bantu ambilin piring sama cuci piring. Alhamdulillah sehari itu dikasih Rp100 ribu.”

Baru saya sadar...

Uang Rp100 ribu yang sejak tadi dia pegang ternyata hasil dari kerja kerasnya sendiri.

Saya lanjut ngobrol.

Teknisi:
“Kamu masih sekolah?”

Ikhsan:
“Masih, Mang. Kelas 2 SMP.”

Teknisi:
“Kalau pulang sekolah kamu ngapain?”

Ikhsan:
“Ya bantu-bantu Ibu kerja, Mang. Masukin tali atau kolor ke celana. Kalau satu kodi dapat Rp5 ribu. Sehari kadang dapat Rp15 ribu.”

Teknisi:
“Terus uangnya buat apa?”

Ikhsan:
“Buat uang saku sekolah, Mang. Sehari Rp10 ribu.”

Saya cuma terdiam mendengarnya.

Ternyata anak ini memang pekerja keras.

Walaupun dia punya keterbatasan fisik dan tidak seperti anak-anak pada umumnya, dia tetap semangat membantu ibunya.

Sepulang sekolah bukannya cuma bermain, dia masih menyempatkan diri membantu pekerjaan ibunya untuk mendapatkan uang tambahan.

Sambil ngobrol, HP saya cas sampai cukup.

Setelah dirasa sudah cukup, HP saya kasih ke Ikhsan.

Teknisi:
“Nih, coba dulu dites HP-nya.”

Ikhsan langsung mengambil HP-nya dan mulai mengetes.

Dicoba buat ini, dicoba buat itu...

Alhamdulillah, HP sudah normal.

Ikhsan:
“Berapa, Mang, ongkosnya?”

Teknisi:
“Di tes saja dulu HP-nya. Pastikan normal, baru bayar.”

Setelah beberapa menit dia tes dan HP benar-benar sudah normal, Ikhsan kembali bertanya.

Ikhsan:
“Mang, ada antigores nggak? Antigores saya sudah lepas soalnya. Sekalian dipasangin. Totalnya jadi berapa?”




Teknisi:
“Oh, ada. Siap saya pasangin. Jadi totalnya Rp200 ribu.”

Wajah Ikhsan tiba-tiba berubah.

Kelihatan panik dan bingung.

Ikhsan:
“Lah, Mang... saya bawa uangnya cuma Rp100 ribu.”

Sambil berkata begitu, dia langsung memberikan uang Rp100 ribu yang sejak tadi dia pegang kepada saya.

Saya ambil uangnya.

Kemudian saya ambil sebuah karet.

Saya masih ingat kejadian sebelumnya.

Waktu itu dia pernah servis di sini. Seharusnya bayar Rp100 ribu, tapi saya korting jadi Rp50 ribu.

Tapi uang yang dia bawa ternyata jatuh atau hilang di jalan.

Makanya kali ini saya ambil karet dan saya ikat uangnya ke bajunya.




Ikhsan:
“Lah, kok uangnya diiket, Mang?”




Teknisi:
“Biar nggak hilang lagi.”

Kemudian saya bilang...

Teknisi:
“Harusnya kalau dihitung, ini bayar Rp200 ribu. Tapi buat kamu nggak usah bayar.”

Ikhsan diam.

Saya lanjutkan.

Teknisi:
“Uang ini ambil lagi. Hati-hati jangan sampai hilang. Nanti kasih ke Ibu. Buat beli beras atau kebutuhan di rumah.”

Saya kemudian mengingatkan dia.

Teknisi:
“Yang penting kamu rajin salat, belajar yang benar, sekolah yang benar. Jangan suka bolos. Ngerti nggak?”

Ikhsan mengangguk.

Ikhsan:
“Ngerti, Mang...”

Kemudian dia tersenyum dan berkata...

Ikhsan:
“Makasih ya, Mang... Semoga konternya laris, rezekinya lancar, dan berkah juga rezekinya, Mang. Aamiin.”

Saya menjawab dengan suara lirih.

Teknisi:
“Aamiin... aamiin...”

Ikhsan:
“Makasih ya, Mang. Assalamualaikum.”

Teknisi:
“Waalaikumsalam...”

Ikhsan kemudian pulang.

Jalan kaki.

Padahal biasanya kalau datang ke konter dia naik sepeda.

Tapi hari itu dia bilang sepedanya sedang bocor.

Rumahnya juga lumayan jauh dari konter.

Saya cuma bisa melihat dia berjalan kaki meninggalkan konter.

Dari kejadian ini saya kembali diingatkan...

Kadang kita mengira kita sedang membantu seseorang.

Padahal bisa jadi, justru orang itulah yang sedang mengajarkan kita arti perjuangan, kesabaran, dan rasa syukur.

Ikhsan masih kelas 2 SMP.

Masih punya keterbatasan fisik.

Sudah tidak punya ayah.

Tapi dia tetap sekolah, tetap membantu ibunya, dan masih mau bekerja untuk mendapatkan uang sendiri.

Dan yang paling membuat saya terdiam...

Uang Rp100 ribu yang dia bawa ke konter bukan uang pemberian. Itu uang hasil keringatnya sendiri.

Semoga Allah selalu memberikan Ikhsan kesehatan, kemudahan dalam sekolahnya, kelancaran rezekinya, dan kekuatan untuk terus membantu ibunya.

Dan semoga kita semua diberikan rezeki yang bukan hanya banyak...

Tapi rezeki yang halal, lancar, berkah, dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

Aamiin.


Salam Kisah Teknisi

0 تعليقات

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم