Katanya Orang Dekat, Tapi Hampir Seminggu HP Nggak Diambil…
Siang itu datang seorang mas-mas membawa HP Infinix Smart 6.
User:
“Mas, HP saya restart-restart. Sama teman saya sudah di-reset, tapi masih sama. Itu apanya ya, Mas?”
Teknisi:
“Bisa dari jalur baterai atau VBUS. Bisa juga dari software. Ada kemungkinan programnya error, tapi kalau memang eMMC-nya sudah lemah, gejalanya juga bisa seperti itu.”
User:
“Ohh… kalau biayanya kira-kira berapa, Mas?”
Teknisi:
“Kalau jalur atau software sekitar Rp80 sampai Rp100 ribu. Tapi kalau eMMC yang bermasalah, bisa sampai Rp300 ribuan.”
Si mas langsung menjawab:
User:
“Ya sudah, Mas. Yang Rp100 ribuan dulu aja. Tolong dibenerin.”
Teknisi:
“Ya, coba saya cek dulu.”
User:
“Bisa ditungguin, Mas?”
Teknisi:
“Bisa, tungguin aja.”
HP langsung saya bongkar.
Setelah dicek, ternyata benar, jalur ViuS-nya bermasalah.
Saya lakukan jumper.
HP dinyalakan…
Restart-nya sudah hilang.
Tapi ternyata belum selesai.
HP malah berhenti di logo dan nggak bisa masuk menu.
User:
“Mas, sudah jadi belum?”
Teknisi:
“Belum, Mas. Restart-nya sudah normal, tapi HP-nya masih belum bisa masuk menu.”
User:
“Lah, iya… sama teman saya juga begitu.”
Teknisi:
“Coba saya flash dulu ya, Mas.”
User:
“Ya sudah, saya tinggal dulu aja.”
Si mas pulang.
Saya lanjut kerjakan.
Dicoba flash…
Gagal.
Dicoba lagi…
Gagal lagi.
FRP juga gagal.
Dari situ mulai terasa ada yang nggak beres.
Dalam hati saya:
«“Wah… jangan-jangan eMMC-nya mulai lemah.”»
Besoknya si mas datang lagi.
Tapi kali ini dia datang bareng seorang cewek.
User:
“Mas, sudah jadi belum?”
Teknisi:
“Masih gagal, Mas. Sepertinya eMMC-nya mulai bermasalah. Kalau mau lanjut, harus congkel eMMC.”
User:
“Kalau biayanya berapa?”
Teknisi:
“Sekitar Rp300 ribu, Mas.”
User:
“Ya sudah, kerjain aja. Kapan jadinya?”
Teknisi:
“Besok sore, Mas.”
User:
“Oke, siap.”
Besok sore dia datang lagi.
User:
“HP saya sudah jadi belum, Mas?”
Teknisi:
“Sudah, Mas.”
Dia langsung melihat HP-nya.
Mungkin karena terlalu senang HP-nya sudah hidup normal, dia langsung mau membawa HP tersebut.
Tapi ada satu hal yang dia lupa…
Belum bayar.
Teknisi:
“Mas… punten. belum Bayar, Mas.”
User:
“Oh iya… berapa jadinya?”
Teknisi:
“Rp300 ribu, Mas.”
Dia lalu bilang:
User:
“Anu, Mas… uang saya kurang Rp80 ribu. Besok saya ke sini lagi saja ya. HP-nya saya bawa dulu.”
Nah…
Di situ pikiran saya mulai nggak enak.
Teknisi:
“Kalau belum lunas, HP-nya belum bisa dibawa dulu, Mas.”
User:
“Saya orang dekat situ, Mas…”
Tangannya bahkan sambil menunjuk ke arah ujung gang.
Teknisi:
“Iya, Mas. Saya paham. Tapi tetap, kalau belum lunas HP-nya belum bisa dibawa.”
Akhirnya dia mengangguk.
User:
“Ya sudah. Nanti malam saya ambil.”
Teknisi:
“Iya, Mas.”
Malamnya saya tunggu.
Jam berganti…
Orangnya nggak datang.
Saya pikir:
«“Mungkin besok sore.”»
Besok sore…
Nggak datang.
Besoknya lagi…
Masih nggak ada.
Sampai beberapa hari kemudian…
Tetap nggak muncul.
Hari demi hari HP itu masih ada di konter.
Sampai hampir satu minggu.
Yang bikin saya mulai penasaran bukan lagi soal uang Rp80 ribunya.
Tapi justru satu pertanyaan:
«“Sebenarnya kenapa HP yang sudah selesai diperbaiki ini nggak kunjung diambil?”»
Padahal waktu terakhir datang, dia bilang orangnya dekat.
Tapi hampir seminggu…
Orangnya nggak kelihatan.
HP masih ada.
Uang masih kurang.
Dan sekarang malah muncul pertanyaan lain di kepala saya…
«“Jangan-jangan ada cerita lain di balik HP ini?”»
Saya cuma bisa menunggu.
Salam Kisah Teknisi




إرسال تعليق