HP Rusak, Panen Berkurang, Tapi Doa Nenek Tak Pernah Berkurang
Baru saja saya sampai di konter.
Belum sempat buka pintu, belum sempat menyalakan lampu, tiba-tiba saya melihat seorang nenek berjalan pelan hendak menyeberang jalan menuju arah konter.
Saya perhatikan baik-baik...
Ternyata benar. Nenek dari Kertasemaya. Jauh jauh dari Indramayu ke cirebon tegalgubug cuman ingin service hp jadulnya
Nenek itu menghampiri saya sambil tersenyum.
Nenek:
“Assalamualaikum, Dek...”
Teknisi:
“Wa'alaikumussalam, Nek. Alhamdulillah... Nenek datang lagi.”
Nenek:
“Alhamdulillah, pas banget. Adek juga baru datang.”
Teknisi:
“Iya, Nek. Gimana, Nek?”
Nenek kemudian mengeluarkan HP-nya.
Nenek:
“Ini, Dek... HP yang kemarin kalau dicolok charger ada gambarnya, tapi pas dinyalakan nggak mau. Coba dibenerin lagi aja, Dek. Sayang... HP-nya masih bisa nyala.”
Teknisi:
“Iya, Nek. Nanti saya cek. Saya buka konternya dulu ya.”
Nenek:
“Iya, Dek. Sok, nggak apa-apa.”
Beberapa menit kemudian konter selesai saya buka.
Saya langsung duduk dan mulai memeriksa HP milik Nenek.
Sambil bekerja, saya sempat bertanya...
Teknisi:
“Kirain Nenek sudah ganti HP. Kok nggak kesini-kesini?”
Nenek tersenyum kecil.
Nenek:
“Alhamdulillah, Dek... kemarin-kemarin HP-nya awet. Nggak rusak-rusak. Baru sekarang rusak lagi.”
Lalu Nenek terdiam sebentar.
Nenek:
“Sebenarnya mau ganti HP, Dek. Nunggu panen.”
Saya masih fokus memeriksa HP-nya.
Tapi kemudian Nenek melanjutkan dengan suara yang pelan...
Nenek:
“Cuma panennya sekarang kurang, Dek.”
Saya menoleh.
Nenek:
“Biasanya dapat tiga ton... sekarang cuma dapat separonya.”
Nenek menghela napas.
Nenek:
“Boro-boro mau beli HP. Buat biaya tanam lagi juga ngepas. Kadang malah kurang.”
Saya cuma bisa mengangguk.
Memang akhir-akhir ini hujan juga jarang turun.
Teknisi:
“Iya, Nek... di sini juga sudah lama nggak hujan.”
Nenek:
“Iya, Dek. Jadi nggak kepikiran beli HP.”
Saat itu saya baru sadar...
Bagi kita, mungkin HP cuma barang yang bisa diganti ketika rusak.
Tapi bagi Nenek, HP itu mungkin satu-satunya hiburan.
Satu-satunya alat untuk mendengar suara anak dan cucu-cucunya.
Nenek tiba-tiba membuka tasnya.
Saya kira mau mengambil sesuatu.
Ternyata Nenek mengeluarkan beberapa buah belewah yang masih segar.
Buah yang biasanya dibuat es kopyor dan punya rasa khas itu.
Nenek:
“Dek, ini... Nenek punya. Tadi beli di situ. Nih, ambil aja.”
Teknisi:
“Duh, nggak usah, Nek. Buat Nenek aja.”
Nenek:
“Udah, nggak apa-apa, Dek. Ini masih ada lagi di tas.”
Saya sempat menolak.
Tapi Nenek terus memaksa.
Akhirnya saya terima.
Bukan karena saya membutuhkan buahnya...
Tapi karena saya tahu, mungkin bagi Nenek, memberi sedikit dari apa yang dia punya adalah bentuk terima kasih yang paling dia mampu.
Saya kembali melanjutkan pekerjaan.
Setelah beberapa menit, akhirnya HP Nenek selesai.
Ternyata masalahnya ada di tombol on off
Saya pasang tombol yang ukurannya lebih besar supaya nanti Nenek lebih mudah menekannya.
Teknisi:
“Nah, ini Nek... sudah jadi. Coba dicek.”
Nenek mengambil HP-nya.
Dicobanya menekan tombol.
HP menyala.
Wajah Nenek langsung berubah cerah.
Nenek:
“Alhamdulillah... akhirnya jadi juga.”
Nenek tersenyum.
Nenek:
“Jadi punya hiburan lagi, Dek. Bisa telepon cucu-cucu... yang lucu-lucu itu.”
Saya hanya tersenyum.
Karena saya tahu...
Begitulah seorang nenek.
bukan dirinya yang ingin hiburan.
Tapi suara cucunya yang ingin dia dengar.
Bukan dirinya yang ingin melihat layar HP.
Tapi wajah dan kabar anak cucunya yang ingin dia tahu.
Lalu Nenek bertanya...
Nenek:
“Berapa, Dek?”
Teknisi:
“Sudah, Nek. Bawa saja. Nggak apa-apa.”
Nenek langsung menggeleng.
Nenek:
“Hus... nggak boleh begitu, dek.”
Teknisi:
“Sudah, Nek. Buahnya juga Nenek sudah kasih.”
Nenek malah mengeluarkan uang.
Nenek:
“Orang kerja kok nggak dibayar. Nggak boleh begitu.”
Dia menyerahkan uang Rp50 ribu.
Saya masih menolak.
Tapi Nenek tetap memaksa.
Akhirnya saya bilang...
Teknisi:
“Kalau begitu, jangan Rp50 ribu, Nek. Rp20 ribu saja.”
Nenek tersenyum.
Nenek:
“Nah... Rp20 ribu saja.”
Lalu beliau berkata sesuatu yang sampai sekarang masih teringat di kepala saya.
Nenek:
“Biar syarat saja... biar penglarisan.”
Kemudian Nenek mulai mendoakan saya.
Nenek:
“Semoga rame..ya dek. rezekinya lancar, berkah, bermanfaat... jadi orang kaya...”
Doanya tidak sebentar.
Satu per satu keluar dari mulutnya.
Padahal saya tahu...
Nenek sendiri sedang menunggu panen.
Panennya berkurang.
Biaya tanam saja masih pas-pasan.
Tapi hari itu, Nenek masih sempat mendoakan orang lain supaya rezekinya lancar.
Saya hanya bisa menjawab pelan...
Teknisi:
“Aamiin... aamiin, Nek. Terima kasih.”
Saya pun mendoakan balik.
Teknisi:
“Nenek juga semoga rezekinya dilancarkan, diberi keberkahan dan manfaat. Diberi panjang umur, sehat selalu... dan semoga nanti waktu berangkat hajinya semuanya dilancarkan. Semoga nggak ada kendala sedikit pun.”
Nenek tersenyum.
Kemudian berdiri sambil membawa HP-nya.
Nenek:
“Saya pulang dulu ya, Dek. Makasih ya...”
Teknisi:
“Iya, Nek. Hati-hati di jalan.”
Nenek:
“Assalamualaikum...”
Teknisi:
“Wa'alaikumussalam.”
Nenek kemudian berjalan kaki meninggalkan konter.
Pelan-pelan...
Menuju jalan raya.
Katanya mau naik bis.
Saya berdiri di depan konter dan melihat langkah Nenek semakin jauh.
Entah kenapa, siang itu hati saya terasa berbeda.
Nenek datang membawa HP yang rusak.
Pulang membawa HP yang sudah bisa dipakai lagi.
Tapi yang Nenek tinggalkan di konter saya bukan cuma Rp20 ribu dan buah belewah.
Nenek meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal...
Sebuah doa.
Dan dari kejadian itu saya kembali belajar:
Orang yang hidupnya serba kekurangan justru menjadi orang yang paling ringan tangannya untuk berbagi.
Panennya berkurang...
Uangnya mungkin pas-pasan...
Tapi doanya untuk orang lain tidak pernah kekurangan.
Dan mungkin...
rezeki itu bukan selalu tentang berapa banyak yang kita punya.
Tapi tentang seberapa banyak keberkahan yang bisa kita bagi, meski yang kita punya tidak seberapa.
Semoga Nenek selalu diberi kesehatan, umur panjang, rezeki yang cukup dan berkah.
Dan semoga suatu hari nanti...
doa Nenek untuk bisa berangkat ke Tanah Suci benar-benar sampai pada waktunya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin. 🤲
Salam Kisah Tekisi




إرسال تعليق