Salah Beli LCD Redmi Note 11 4G

 LCD Salah Beli, Istri Ikut Emosi 😂


Sore menjelang Magrib, suasana konter mulai sepi.

Saya juga sudah mulai mikir, sebentar lagi tutup sebentar buat sholat.


Tiba-tiba ada mas-mas naik motor, berhenti tepat di depan konter.


User:

“Mas… bisa pasang LCD nggak?”


Teknisi:

“Bisa mas. Emang HP apa?”


User:

“Xiaomi, mas.”


Dalam hati saya langsung mikir…


“Xiaomi apa dulu nih? Kalau Redmi Note 11 biasanya ada yang AMOLED. Jangan sampai salah beli LCD.”


Teknisi:

“Ini LCD-nya AMOLED apa yang biasa, mas?”


User:

“Yang biasa mas. Yang penting bisa dipakai dulu. Ini tadi siang baru nyampe.”


Teknisi:

“Ohh bisa. Kalau cuma pasang, paling kena Rp80 ribu, mas.”


User:

“Nggak kurang, mas?”


Saya langsung dalam hati:


“Baru juga ngomong Rp80 ribu sudah ditawar. Kalau saya bilang Rp50 ribu, nanti jangan-jangan minta bonus konternya sekalian.” 😂


Teknisi:

“Segitu sudah murah, mas.”


User:

“Ya udah, saya tinggal ya mas. Nanti malam saya ambil.”


Teknisi:

“Siap.”


Akhirnya HP beserta kotak paket  LCD ditinggal.


Karena sudah mepet Magrib, saya nggak langsung kerjain.


“Sholat dulu. HP nggak bakal kabur.”


Selesai sholat, saya balik ke konter.


Tanpa banyak pikir, langsung saya bongkar HP-nya.


Sampai akhirnya mata saya tertuju ke kotak LCD.


Saya baca pelan-pelan…


“Redmi Note 11 4G.”


Saya langsung berhenti.


Teknisi dalam hati:

“Lah… kok Note 11 4G?”


Saya buka kotaknya.



Dan benar saja…


LCD IPS biasa.


Saya lihat HP-nya lagi.


Lihat kotaknya lagi.


Lihat HP lagi.


Teknisi:

“Waduhhh… ini bukan sekadar pasang LCD. Ini kayaknya saya dapat episode tambahan.” 😂


Saya cek lagi tipe HP-nya.


Ternyata HP ini Redmi Note 11 versi Global, yang memang beda dengan Redmi Note 11 4G.



Belum selesai sampai situ…


Saya lihat baterainya.


“VIVO.”


Saya bengong.


Teknisi:

“Lahhh… ini HP Xiaomi kok baterainya Vivo?!”


Saya mulai curiga.


“Ini HP apa hasil merger perusahaan?” 😂


Jam menunjukkan sekitar pukul 7 malam.


Belum sempat saya mikir lebih jauh, si mas tadi datang lagi.


Kali ini datang bareng istrinya.


Begitu masuk langsung nanya…


User:

“Sudah jadi, mas?”


Saya tarik napas dulu.


Teknisi:

“Sudah saya bongkar, mas… tapi ini ada masalah.”


User:

“Masalah apa?”


Teknisi:

“Mas ini salah beli LCD.”


Dia langsung lihat kotaknya.


User:

“Salah beli gimana, mas? Itu kan sudah sesuai tipenya.” ngomong agak nge_gass


Teknisi:

“Iya, sesuai namanya memang Redmi Note 11. Tapi Redmi Note 11 itu ada beberapa versi. HP sampean ini versi Global, sedangkan LCD yang sampean beli itu buat Redmi Note 11 4G. Beda.”


Dia mulai mengernyitkan dahi.


User:

“Lho… tapi saya belinya sesuai, mas. Masa nggak bisa dipasang? Apa masnya yang nggak bisa pasang?”


Saya cuma bisa…


“Hmmm…”


Dalam hati:


“Masalahnya bukan tangan saya yang nggak bisa masang. Kalau beda part ya mau dipaksa sampai kiamat juga nggak bakal cocok.” 😂


Saya jelaskan pelan-pelan.


Teknisi:

“Gini mas. Redmi Note 11 itu ada beberapa varian. Ada Global, ada China, dan ada Redmi Note 11 4G. Walaupun namanya hampir sama, LCD-nya belum tentu sama. Jadi kalau salah varian, ya nggak bisa asal pasang.”


User mulai diam.


Istrinya ikut memperhatikan.


Tiba-tiba dia melihat bagian dalam HP.


Istri:

“Lho… mas…”


User:

“Apa?”


Istri:

“Itu baterainya kok VIVO?!”


Saya langsung senyum kecut.


Teknisi:

“Nahhh… itu saya juga baru tahu, Bu.” 😂


User:

“Lah kok bisa?”


Teknisi:

“Saya juga nggak tahu, mas. Kirain sampean sudah tahu. HP-nya beli di mana emang?”


User:

“Online, mas. Beli second.”


Istrinya langsung mulai ceramah.


Istri:



“Tuh kan! Saya bilang juga apa… kalau beli HP bekas jangan asal! Dibilangin beli yang baru nggak percaya. Sekarang lihat… LCD salah, baterai Vivo!”


Si mas cuma diam.


Saya pura-pura sibuk melihat baut.


Karena kalau saya ikut komentar, bisa-bisa saya yang ikut kena ceramah. 😂


User:

“Terus gimana ini, mas?”


Teknisi:

“Kalau LCD-nya masih baru sampai, coba diretur saja. Masih ada kemungkinan bisa dikembalikan.”


User:

“Saya pesannya lewat bos, mas. Tapi katanya sesuai.”


Teknisi:

“Ya sudah, WA bosnya. Bilang LCD-nya salah varian.”


User:

“Kalau saya ganti LCD sekalian di sini berapa, mas?”


Teknisi:

“Kalau ganti LCD yang sesuai, paling sekitar Rp250 ribu. Garansi satu minggu.”


Dia langsung menghitung dalam kepala.


User:

“Waduh… mahal ya, mas. Online lebih murah.”


Saya cuma mengangguk.


Teknisi:

“Ya sudah, kalau begitu retur dulu saja.”


User:

“Ya udah mas, pasangin lagi baut-bautnya. Saya retur dulu. Kalau nanti jadi ganti LCD, saya balik lagi.”


Teknisi:

“Siap, mas.”


Saya rakit kembali HP-nya.


Pas sudah selesai, saya serahkan HP beserta LCD-nya.


Teknisi:

“Nih mas.”


Dia ambil.


Langsung naik motor.


Saya tunggu…


Dalam hati:


“Minimal bilang makasih kek…” 😭


Tapi ternyata…


Nggak ada.


Gas motor langsung bunyi.


Ngenggggg…


Istrinya naik di belakang.


Belum jauh dari konter, suara istrinya masih terdengar…


“Tuh kan saya bilang juga apa! Makanya kalau beli HP jangan asal! Sekarang siapa yang repot?!”


Motornya makin jauh.


Saya berdiri di depan konter sambil melihat mereka  pergi....


Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama