Niatnya Mau Liat LCD Ori atau tidak Malah Jadi Semuanya

 Siang itu konter lagi lumayan rame kerjaan.

Tiba-tiba datang mas-mas yang memang pernah service di tempat saya.



User:

 “Mas, lagi punya barang apa, Mas?”


Teknisi:

 “Wah kebetulan ada Oppo Reno. RAM 8+4, internal 256.”


User:

 “Minus apa, Mas?”


Teknisi:

 “Minus LCD-nya udah pernah ganti, Mas. Bukan yang ori.”


User:

 “Harganya berapa?”


Teknisi:

 “Paling 1,5 juta. Nego alus lah.”


User:

 “Wah, saya sebenarnya pengennya yang ori, Mas. Kalau saya COD di sini bisa nggak?”


Teknisi:

 “Maksudnya?”


User:

 “Saya mau beli HP. Nanti orangnya saya suruh ke sini. Mas yang bantu cek. Gampang lah, nanti saya kasih uang rokok.”


Saya langsung mikir...


Teknisi:

 “Waduh, saya juga kalau ngecek HP orang kadang nggak teliti, Mas. Takutnya malah saya bilang aman, ternyata ada penyakit yang nggak kelihatan.”


User:

 “Ah, nggak apa-apa, Mas. Cuma lihat LCD masih ori apa nggak, sama cek sewajarnya.”


Teknisi:

 “Duh... ya wis gampang.”


Saya kira urusannya selesai.


Ternyata...

Malamnya dia datang lagi.


User:

 “Mas, nanti tolong lihat ya.”


Teknisi:

 “Lihat apaan?”


User:

 “Itu yang tadi siang saya bilang, yang mau COD.”


Teknisi:

 “Lah, emang jadi?”


User:

 “Jadi, Mas. Nih orangnya bentar lagi ke sini.”

Belum selesai ngomong, HP-nya bunyi.


User:

 “Halo... iya, Mas. Langsung ke sini aja. DiKonter sebelah utara Mts Alhilal saya disini.”

Saya cuma bisa bengong.


Dalam hati:

“Ya Allah... kerjaan saya sendiri aja masih numpuk, sekarang konter berubah jadi tempat COD.”


Nggak lama kemudian datanglah orang yang mau jual tablet.


Pembeli:

 “Mas, ini barangnya.”


User:

 “Ini aman kan? Belum pernah dibuka? LCD masih ori?”


Penjual:

 “Aman, Mas. Masih segel. Belum pernah dibuka. Kardus juga masih ada.”


User:

 “Coba dicek dulu, Mas.”

Saya yang sebenarnya dari tadi pengen fokus ke kerjaan sendiri akhirnya maju juga.


Teknisi:

 “Ini nggak pakai kartu SIM, Mas?”


User:

 “Memang modelnya nggak pakai kartu SIM, Mas.”

Nadanya sudah mulai ngegas.


Padahal saya belum liat tipe apa merek apa, saya juga nggak tahu dia tadi ngobrol sama penjual soal apa.


Akhirnya saya cek satu-satu.

Dari layar, body, tombol, sampai bagian pinggir.

Kelihatannya memang aman.


Tapi pas saya lihat bagian tempat SD card...

Lho... kok bengkok?


Saya pegang pelan.


Teknisi:

 “Mas, ini coba lihat. Bagian tempat SD card-nya agak bengkok.”


Saya kasih tabletnya ke pembeli.


Penjual:

 “Itu belum pernah dibongkar, Mas. Masih ori semua.”


Teknisi:

 “Iya, saya ngerti. Saya cuma bilang ini bagian tempat SD card-nya bengkok.”

Saya tunjukkan lagi.


Teknisi:

 “Kalau saya lihat begini, kesannya pernah dicongkel dari sini.”


Pembeli mulai penasaran.


Pembeli:

 “Coba dibuka aja, Mas.”


Teknisi:

 “Nah, ini coba masukkan alat ejector-nya.”


Dicoba...

Nggak bisa.

Dicoba lagi...

Tetap macet.


Mereka mulai saling lihat.

Saya juga mulai curiga.


Teknisi:

 “Nah kan... ini bukan sekadar bengkok. SD tray-nya juga macet.”


Pembeli:

 “Mas, coba buka.”


Penjual:

 “Buka aja, Mas. Nggak apa-apa.”


Pembeli:

 “Lah, kenapa saya yang buka? Kan belum saya bayar. Mas yang punya coba buka.”


Akhirnya si penjual ikut mencoba.


Dicoba pelan...

Ditarik...

Diputer sedikit...

Tetap nggak keluar.


Suasana yang tadinya santai mulai berubah.

Si penjual akhirnya bilang:


Penjual:

 “Anu, Mas... internalnya kan 128 GB. Jadi sebenarnya nggak perlu SD card.”

Pembeli langsung nyaut:


Pembeli:

 “Ya sekarang mungkin nggak perlu. Tapi nanti kalau penuh kan saya butuh. Masa mau pakai SD card aja nggak bisa?”


Mulai deh...

Debat kecil dimulai.


Saya yang dari tadi cuma jadi penonton akhirnya ikut ngomong.


Teknisi:

 “Biasanya kalau kasusnya begini, kemungkinan pernah dimasukkin kartu SIM padahal ini kan tempatnya SD card. terus pas mau dikeluarin malah macet. Saya nggak bilang pasti begitu, tapi dari kondisinya memang ada kemungkinan.”


Si penjual langsung jawab:


Penjual:

 “Saya nggak tahu, Mas. Ini tablet punya kakak saya.”


Saya langsung dalam hati:

“Nah... keluar juga kalimat keramatnya.”

Tadinya bilang masih segel, belum pernah dibuka.


Sekarang...

“Punya kakak saya.”


Belum sempat lanjut, datang pelanggan saya yang mau service.


Saya langsung lihat ke arah mereka.

Mereka juga mulai nggak enak karena dari tadi konter jadi tempat sidang tablet.


Pembeli:

 “Mas, kita lanjut di rumah aja yuk. Biar enak.”


Penjual:

 “Lah, di sini aja. Tinggal bayar.”


Pembeli:

 “Di sini nggak enak. Ganggu kerja teknisinya.”

Terus dia menoleh ke saya.


Pembeli:

 “Mas, nanti ya... uang rokoknya.”


Teknisi:

 “Siap, gampang.”


Dan akhirnya saya balik ke meja kerja.


Dalam hati saya cuma bisa ngomong:

“Saya kira tadi cuma diminta lihat LCD ori apa nggak...”


“Ternyata saya malah dapat paket lengkap: jadi teknisi, jadi pemeriksa barang, jadi saksi, hampir jadi penengah 


Dan ternyata


“Uang rokok nggak datang, orangnya pun ikut menghilang. Barang sudah dibawa entah jadi apa enggaknya. , bantuan sudah diterima... giliran janji, entah ke mana.”


Nb : foto hanya pemanis. Mi pad 11 


Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama