Kedatangan Mbak Cantik Di Konter

 Sore itu datang seorang mbak-mbak cantik ke konter.



Sebenarnya bukan pertama kali saya ketemu mbak ini. Dia memang lumayan sering mampir ke konter, dan yang bikin saya senang...


Ternyata dia juga salah satu orang yang sering baca postingan dan carpen yang saya buat.


Kalau datang, urusan HP biasanya cuma jadi pembuka.


Setelah itu...


Ngobrolnya bisa ke mana-mana. 😅


Mbak:

“Assalamualaikum, Mas...”


Teknisi:

“Wa'alaikumussalam... eh, Mbak'e. Gimana, Mbak?”


Mbak:

“Ini Mas, HP temen aku. Minta ganti LCD. LCD-nya sudah aku beliin, terus kemarin aku coba pasang sendiri.”


Teknisi:

“Lho... Mbaknya sekarang sudah berani pasang LCD sendiri?”


Mbak:

“Iya Mas. Alhamdulillah jadi.”


Sambil ngomong begitu, HP-nya diserahkan ke saya.


Begitu saya lihat...


Saya langsung senyum.


LCD memang sudah terpasang.


Tapi pinggirannya masih dikaretin.


Di atas LCD juga ada penjepit LCD yang jumlahnya lumayan banyak.


HP-nya kelihatan seperti habis operasi dan masih dalam masa pemulihan. 😂


Teknisi:

“Wah, mantap Mbak... bisa pasang LCD sendiri.”


Mbak:

“Hehehe...”


Teknisi:

“Tapi ini kurang banyak penjepitnya, Mbak.”



Mbak:

“🤣🤣🤣”


Teknisi:

“Ini HP apa jemuran, kok dijepit semua?”


Mbaknya cuma ketawa.


Lalu dia bilang...


Mbak:

“Kan saya sering lihat postingannya Mas. Makanya berani nyoba pasang sendiri.”


Saya langsung menoleh.


Teknisi:

“Ohh... sering lihat postingan saya?”


Mbak:

“Iya.”


Teknisi:

“Sering baca carpen-nya juga?”


Mbaknya tersenyum.


Mbak:

“Kalau yang itu sih nggak pernah telat.”


Nah...


Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa beda.


Ternyata selama ini, di antara banyak orang yang sekadar lewat di beranda...


Ada juga seseorang yang benar-benar mengikuti tulisan-tulisan yang saya buat.


Dan ternyata orangnya...


cantik pula. 😅


Saya lanjut beresin HP-nya.


Konektor saya cek.


Pemasangan LCD saya rapikan.


Tombol yang terasa keras saya periksa lagi.


Tapi yang bikin pekerjaan sore itu terasa lama bukan karena HP-nya susah dikerjakan.


Justru karena obrolannya yang nggak terasa habis-habis.


Dari cerita HP...


Nyambung ke postingan.


Dari postingan...


Nyambung ke kehidupan sehari-hari.


Kadang ketawa.


Kadang saling ngeledek.


Kadang cuma ngobrol hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting.


Tapi anehnya...


justru obrolan kecil seperti itu yang bikin betah.


Ada orang yang baru kita kenal, tapi ngobrol dengannya rasanya seperti sudah lama kenal.


Nggak perlu mikir mau ngomong apa.


Nggak perlu takut kehabisan bahan cerita.


Mengalir begitu saja.


Dan sore itu saya baru sadar...


Ternyata bukan cuma HP yang sedang saya perbaiki.


Suasana hati saya juga ikut diperbaiki. 😅


Sampai akhirnya...


HP-nya selesai.


Dan seperti biasa...


Setelah pekerjaan selesai, pasti ada satu bagian yang paling nggak disukai teknisi.


Pelanggan pulang.


Mbak:

“Sudah jadi, Mas?”


Saya lihat HP-nya.


Saya lihat mbaknya.


Lalu dalam hati saya bilang:


“Cepat juga ya...”


Padahal rasanya baru sebentar ngobrol.


Teknisi:

“Sudah, Mbak.”


Mbak:

“Berapa?”


Teknisi:

“Lima puluh ribu aja, Mbak.”


Mbaknya langsung mengambil uang.


Sementara saya cuma diam sebentar.


Karena ternyata...


Ada pertemuan yang baru sebentar, tapi kepergiannya terasa lebih lama.


Ada orang yang datang cuma membawa HP rusak.


Tapi setelah HP-nya selesai...


Entah kenapa kita malah berharap waktunya belum selesai.


Dan akhirnya saya mencari alasan kecil supaya obrolan itu nggak langsung berakhir.


Teknisi:

“Oh iya, Mbak... ada nomor WA nggak?”


Mbaknya berhenti sebentar.


Mbak:

“Ada, Mas. Kenapa?”


Saya langsung memasang wajah paling profesional.


Teknisi:

“Buat garansi, Mbak. Kalau nanti ada apa-apa tinggal WA saya.”


Padahal...


Kalau boleh jujur...


Garansi HP memang penting.


Tapi kalau nomor WA-nya bisa jadi alasan untuk tetap bisa ngobrol...


ya siapa tahu, kan? 😅


Mbaknya tersenyum sambil memberikan nomornya.


Mbak:

“Nih, Mas...”


Saya simpan nomornya.


Teknisi:

“Makasih ya, Mbak. Semoga HP-nya awet.”


Mbaknya kemudian pamit.


Mbak:

“Assalamualaikum, Mas.”


Teknisi:

“Wa'alaikumussalam... hati-hati ya, Mbak.”


Motor mbaknya perlahan menjauh.


Dan saya kembali duduk di meja servis.


HP berikutnya masih menunggu.


Obeng masih berserakan.


Timah solder masih ada di meja.


Tapi entah kenapa...


suasana konter yang tadi terasa ramai, mendadak terasa sedikit lebih sepi.


Mungkin memang begitu...


Ada orang yang datang hanya beberapa saat.


Tidak membawa sesuatu yang istimewa.


Tidak melakukan sesuatu yang luar biasa.


Hanya ngobrol, tertawa, lalu pulang.


Tapi setelah dia pergi...


kita baru sadar kalau kehadirannya tadi ternyata membuat waktu terasa lebih menyenangkan.


Dan malam itu saya cuma bisa tersenyum sendiri sambil melihat kontak baru di HP.


Nama sudah tersimpan.


Nomor sudah ada.


Tinggal menunggu...


Apakah nanti yang masuk benar-benar pesan tentang garansi...


atau...


“Mas, lagi sibuk nggak?” 😌😂


Karena kalau yang kedua yang masuk...


Sepertinya bukan HP-nya yang perlu diperbaiki.


Hati teknisinya yang mulai butuh servis. ❤️🤣


Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama