Jual Tablet Untuk Beli Beras

PAGI-PAGI, ADA BAPAK SEPUH KETUK PINTU… TERNYATA MAU JUAL TABLET BUAT BELI BERAS.

Pagi sekitar jam 8, waktu saya masih di rumah, tiba-tiba…
Tok… tok… tok…

Ada bapak-bapak yang sudah sepuh mengetuk pintu.

Bapak:
 “Assalamu’alaikum… Mas…”
Saya masih di dalam.

Bapak:
 “Assalamu’alaikum… Mas…”
Sampai tiga kali.

Teknisi:
 “Wa’alaikumussalam… iya, Pak…”

Saya buka pintu.
Ternyata bapaknya membawa sebuah tablet iPad generasi pertama.





Dalam hati saya langsung mikir:
“Wah, pagi-pagi sudah ada yang mau servis.”

Teknisi:
 “Pripun, Pak?”

Bapaknya malah kelihatan malu-malu.

Bapak:
 “Ini, Mas… mau anuuu…”

Teknisi:
 “Duduk dulu aja, Pak. Biar enak ngomongnya.”

Bapaknya duduk.
Beberapa detik kemudian baru beliau ngomong pelan…

Bapak:
 “Anu, Mas… ini saya mau jual tablet.”

Teknisi:
 “Wah… sebenarnya saya nggak jual beli, Pak. Memangnya kenapa dijual?”

Bapak:
 “Ini tabletnya sudah mati, Mas. Daripada nganggur di rumah… mending saya jual saja.”

Saya lihat tabletnya.
Saya coba colok charger.
Nggak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Modelnya juga sudah lama.
Saya coba cek harga di Google…

Ternyata memang sudah bukan barang yang gampang dijual lagi.
Serba salah.

Kalau dihargai tinggi, saya takut malah rugi.
Kalau terlalu rendah, kasihan bapaknya.

Teknisi:
 “Duh, gimana ya, Pak… tabletnya mati, modelnya juga sudah lama.”

Lalu saya tanya:
“Memangnya bapak mau jual berapa?”

Bapaknya menjawab santai…

“Seratus lima puluh ribu aja, Mas.”
Saya diam sebentar.

Sebetulnya kondisi saya juga sedang nggak banyak uang.
Di konter pun mulai berkurang.
Masih banyak HP pelanggan yang belum diambil.

Tapi tiba-tiba saya ingat…
Ada satu pelanggan yang mau ganti LCD dan sudah DP Rp300 ribu.
Uang itu masih ada.

Akhirnya saya bilang:
Teknisi:
 “Ya sudah, Pak… bentar.”
Saya ambil uangnya.

“Punten, Pak… ini uangnya. Tabletnya saya beli ya, Pak.”
Bapaknya tersenyum.




Bapak:
 “Iya, Mas… saya jual ya. Makasih, Mas.”
Lalu beliau berkata sesuatu yang bikin hati saya langsung terasa ditampar.

“Lumayan… bisa buat beli beras.”
Saya cuma bisa diam.

Ternyata…
Bukan saya yang sedang membantu orang.
Saya justru sedang dipertemukan dengan orang yang memang sedang membutuhkan bantuan.
Bapaknya kemudian berdiri dan mulai berjalan pulang.

Baru beberapa langkah…


Teknisi:
 “Bentar, Pak…”

Saya masuk lagi.
Ambil uang Rp50 ribu.
Saya hampiri bapaknya.

Bapak:
 “Ada apa, Mas?”
Saya sodorkan uang itu.

Teknisi:
 “Ini, Pak… saya tambahin lagi. Nggak seberapa, cuma semoga lumayan. Maaf ya, Pak…”

Bapaknya langsung menerima sambil tersenyum.

Bapak:
 “Alhamdulillah… makasih banyak, Mas.”
Kemudian beliau cerita…
“Kemarin sudah saya tawarin ke pasar, Mas. Yang banyak jual HP seken pada nggak mau.”
“Ke konter juga sama, nggak ada yang mau.”
“Malah sampeyan yang mau.”
Saya cuma bisa tersenyum.

Teknisi:
 “Semoga manfaat ya, Pak…”

Bapak itu sebenarnya tetangga saya.
Beliau tinggal ngontrak di perumahan Kaliwulu, Kabupaten Cirebon, sudah hampir satu tahun lebih.

Bukan orang asli sini.
Dan pagi itu saya belajar sesuatu…
 kita merasa hidup kita sedang kekurangan.

Padahal di luar sana…
Ada orang yang bukan sedang mencari untung.
Mereka cuma sedang mencari cara supaya hari itu keluarganya tetap bisa makan.
Tablet itu mungkin bagi saya cuma barang lama yang sudah mati.

Tapi bagi bapak itu…
Rp150 ribu bisa berarti beras untuk dapurnya tetap mengepul.

Dan akhirnya saya sadar…
Tidak semua barang yang datang ke tangan kita harus dihitung dari berapa besar keuntungan yang bisa kita dapatkan.

ada rezeki yang datang bukan untuk membuat kita kaya.
Tapi untuk mengajarkan kita arti cukup… dan arti berbagi.
Semoga uangnya benar-benar bermanfaat buat bapaknya.

Dan kejadian pagi ini bikin saya kepikiran…
Negeri ini katanya kaya.

Tanahnya subur, lautnya luas, sumber dayanya melimpah.

Tapi kenapa masih ada orang tua yang harus menjual barang yang sudah mati hanya untuk membeli beras?

Bukan cuma soal kurangnya kepedulian masyarakat.

Kadang yang lebih menyakitkan…

masih banyak rakyat yang harus berjuang mati-matian untuk sekadar hidup, sementara sebagian pejabat yang seharusnya mensejahterakan rakyat justru sibuk memperkaya dirinya sendiri.

Rakyat disuruh hemat.
Disuruh bayar pajak.
Disuruh taat aturan.
Disuruh bersabar.

Tapi ketika uang rakyat sudah terkumpul…
entah kenapa yang cepat sejahtera justru orang-orang yang punya jabatan.

Bapak tadi mungkin cuma butuh Rp150 ribu untuk membeli beras.

Sementara di tempat lain, mungkin ada uang rakyat yang nilainya jauh lebih besar…

hilang bukan karena rakyat nggak butuh, tapi karena ada yang merasa uang rakyat adalah kesempatan untuk memperkaya diri.

Saya bukan orang penting.

Saya cuma teknisi HP di sebuah konter kecil.
Saya juga nggak bisa mengubah negara.

Tapi pagi itu saya belajar satu hal:
Kalau kita belum mampu membuat negeri ini lebih sejahtera, setidaknya jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang membuat sesama semakin susah.

Karena jabatan itu sementara.
Uang itu bisa habis.
Kekuasaan juga ada batasnya.

Tapi…
doa orang kecil yang pernah kita bantu, mungkin akan jauh lebih panjang umurnya daripada jabatan yang kita banggakan.

Semoga suatu hari nanti…

tidak ada lagi bapak-bapak sepuh yang mengetuk pintu rumah orang hanya untuk menjual barang demi membeli beras.

Dan semoga orang-orang yang diberi amanah untuk mengurus negeri ini…

benar-benar ingat bahwa mereka duduk di sana untuk mensejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri sendiri.




Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama