HP Realme tidak bisa disentuh Karena Memori Penuh?

 Siang itu datang seorang anak gadis yang baru masuk kelas 1 SMA, ditemani bapaknya. Tangannya membawa HP Realme yang kondisinya masih menyala, tapi layarnya diam… disentuh nggak merespons sama sekali.


Mbak:

“Mas, punten… ini HP saya kenapa ya? Kok diem aja, nggak bisa disentuh?”



Teknisi:

“Emang awalnya kenapa, Mbak? Kok bisa sampai begini?”


Mbak:

“Nggak tahu, Mas… tiba-tiba aja gitu.”

Bapaknya berdiri di sebelahnya.


Diam.


Nggak banyak ngomong, tapi dari wajahnya kelihatan sedang mengawasi anaknya.

Saya coba cek sebentar.


Teknisi:

“Wah… ini kayaknya hang berat atau brick, Mbak. Coba kita lihat dulu bisa diselamatkan nggak.”


Mbak:

“Bisa dibenerin nggak, Mas? Tapi datanya jangan sampai hilang ya…”


Teknisi:

“Ya kita coba dulu. Tapi kalau harus flash, kemungkinan datanya hilang.”


Belum sempat saya lanjut ngomong…

Bapaknya langsung nyeletuk.


Bapak:

“Mas… biayanya berapa?”


Teknisi:

“Paling kena 80 ribu, Pak.”


Bapak:

“Cuman gitu doang kok sampai 80 ribu?”


Saya cuma senyum.


Teknisi:

“Itu kalau berhasil, Pak. Kalau gagal ya nggak kena biaya. Tapi saya kasih tahu dari awal, ada risikonya. Kadang bisa mati total hpnya”


Bapak:

“Risiko apaan, Mas? Itu HP masih nyala kok bisa sampai mati?”


Nah… di sini saya jelaskan pelan-pelan.


Teknisi:

“Gini, Pak. Kalau prosesnya flash, memang ada kemungkinan HP malah mati total. Apalagi kalau IC eMMC-nya sudah lemah atau mulai bermasalah. Kita nggak tahu kondisi dalamnya sebelum dieksekusi.”


“Kalau dipaksa flash ternyata eMMC-nya memang sudah lemah, bukannya beres malah bisa mati total. Nanti masalahnya justru tambah panjang.”


“Makanya saya kasih tahu dulu semua risikonya. Biar nanti nggak ada salah paham.”


Saya kemudian tanya lagi.


Teknisi:

“Gimana, Pak? Dilanjut?”

Bapaknya langsung menoleh ke anaknya.


Bapak:

“Tanya tuh sama anaknya! Mau lanjut apa nggak?”


Lalu bapaknya ngomel pelan.


“Sudah dibilangin… data-data yang nggak penting itu dihapus biar nggak lemot. Malah masih sayang sama data.”


“Kalau sudah begini kan bukan cuma datanya yang hilang… HP-nya juga bisa ikut rusak.”

Si anak langsung diam.


Nunduk.


Saya lihat ekspresinya, akhirnya saya coba mengalihkan pembicaraan.


Teknisi:

“Emang awalnya kenapa, Pak? Kok bisa sampai penuh?”


Bapaknya menjawab.


Bapak:

“Jadi HP ini memang memorinya sudah penuh, Mas. Sudah ada peringatan. Saya sudah bilang, hapus data-data yang nggak penting.”


“Ini HP buat sekolah. Kalau ada pengumuman juga lewat HP.”


“Tapi anak saya ini… ngeyel.”


Si anak masih diam.

Saya cuma mengangguk.


Teknisi:

“Ohhh… berarti memang dari awal memorinya sudah penuh ya, Pak. Bisa jadi itu yang bikin sistemnya sampai hang.”


Bapaknya kemudian cerita lagi.


Bapak:

 “Ini anak baru masuk kelas 1 SMA, Mas. Sekarang sekolahnya sehari masuk, sehari libur.”


Teknisi:

 “Lho… masih begitu, Pak?”


Bapak:

 “Iya. Muridnya banyak, jadi masuknya gantian.”

“Kalau nggak masuk sekolah, belajarnya lewat Zoom. Pake hp ini”


“Dan Zoom-nya itu pakai seragam lengkap. Duduk di depan rumah.”


Saya cuma mengangguk sambil melihat ke arah si anak.


Dari tadi anaknya lebih banyak diam. Sesekali menunduk ketika bapaknya ngomel.


Entah kenapa saya jadi merasa nggak tega.


Namanya juga anak baru masuk SMA. Mungkin memang belum terlalu paham kalau menyimpan terlalu banyak data bisa bikin HP bermasalah.


Apalagi sekarang HP itu bukan cuma buat main.

Buat sekolah juga.


Kalau HP-nya sampai nggak bisa dipakai, yang repot bukan cuma soal HP rusak…


Tapi kegiatan sekolahnya juga bisa ikut terganggu.


Saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan supaya bapaknya nggak terus memarahi anaknya.


Teknisi:

 “Ya sudah, Pak. Kita coba selamatkan dulu HP-nya. Yang penting nanti bisa dipakai sekolah lagi.”


Bapak:

 “Ya sudah, Mas. Kerjain saja. Mau gimana lagi. Daripada HP nggak kepake.”


Teknisi:

 “Siap, Pak. Saya coba dulu.”


Saya mulai colok HP ke komputer.

Nggak kebaca.


Ganti kabel…

Sama.


Pindah port…

Tetap nggak kebaca.


Saya coba pakai laptop lain…

Hasilnya masih sama.



Saya coba cek dari konektor charging…

Tetap nggak terdeteksi.



Saya mulai curiga.


“Ini jangan-jangan bukan sekadar masalah software…”


Saya coba proses menggunakan SD Card.

Beberapa saat berjalan…


ERROR.


Saya berhenti.

Coba lagi…


ERROR lagi.


Saya mulai merasa masalahnya semakin berat.

Akhirnya saya panggil bapaknya.


Teknisi:

 “Pak…”


Bapak:

 “Kenapa, Mas?”


Teknisi:

 “Ini HP-nya gagal terus. Komputer nggak bisa baca, sudah ganti kabel, ganti laptop, ganti port juga sama.”


“Pakai SD Card juga gagal dan muncul error.”

Saya lihat kembali kondisi HP tersebut.



Teknisi:

 “Wah, Pak… ini kayaknya memang sudah nggak bisa kita anggap HP hang biasa.”


Bapaknya mulai serius.


Bapak:

 “Lah terus gimana, Mas?”


Teknisi:

 “Kalau kondisi seperti ini, kemungkinan harus kita bongkar dan direck , Pak.”

Bapaknya terdiam.


Si anak yang dari tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya.


Mungkin dia mulai sadar…


Tadi masalahnya cuma karena memori penuh.

Sekarang HP-nya bahkan nggak mau terbaca komputer sama sekali.


Dan saya sendiri mulai berpikir…


“Jangan-jangan kerusakannya sudah masuk ke bagian Emmc yang sudah lemah..”



Bersambung…ke part 2


Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama