Dia Kembali Lagi Tapi Membawa Pesan Yang Bisa Melukai Siapapun

Malam itu konter sudah mulai sepi.


Jam sudah semakin larut. Suara kendaraan di jalan depan konter mulai jarang terdengar. Beberapa toko di sekitar juga sudah tutup satu per satu.


Saya sebenarnya sudah ingin beres-beres.


Tapi masih ada satu pekerjaan yang nanggung.


Di depan saya ada sebuah motherboard dengan satu jalur yang putus. Saya sedang jumper jalur itu menggunakan solder. Mata harus benar-benar fokus, karena sedikit saja tangan meleset, jalurnya bisa malah tambah rusak.


Di tengah suasana yang hening itu...


Tiba-tiba terdengar suara dari depan konter.


Mbak:

“Assalamualaikum, Mas...”


Teknisi:

“Wa'alaikumussalam...”


Saya menjawab salamnya tanpa menoleh.


Mata masih fokus ke motherboard.


Mbak:

“Lagi sibuk, Mas?”


Entah kenapa...


Suara itu terasa sangat familiar.


Tangan saya berhenti.


Saya perlahan menoleh ke arah suara tadi.


Dan...


MasyaAllah.


Ternyata dia.



Mbak yang beberapa hari ini tidak datang.


Mbak yang tanpa sadar sempat saya tunggu-tunggu.


Seketika fokus saya buyar.


Saya bahkan lupa kalau tangan masih memegang solder.


Sampai akhirnya...


“Aduh... panas!”


Solder itu menyentuh kulit.


Mbak:

“Lho, kenapa, Mas?”


Saya buru-buru menarik tangan.


Teknisi:

“Nggak... nggak apa-apa, Mbak.”


Padahal dalam hati saya cuma bisa berkata:


“Akhirnya datang juga...”


Dia kemudian mengeluarkan sebuah HP dari tasnya.


Mbak:

“Ini Mas, benerin HP lagi. Punya teman saya. Tombolnya rusak, susah dipencet.”


Saya langsung kembali melihat HP tersebut.


Teknisi:

“Oh, bisa Mbak. Bentar ya, nanggung ini.”


Mbak:

“Iya, Mas.”


Dia duduk menunggu.


Beberapa detik suasana kembali hening.


Kemudian dia tiba-tiba tersenyum.


Mbak:

“Eh, tumben empat hari ini nggak bikin cerita-cerita lagi?”


Saya ikut tersenyum.


Teknisi:

“Iya Mbak. Lagi banyak kerjaan. Kebetulan kasusnya berat-berat, jadi pikiran fokus ke kerjaan dulu.”


Saya kemudian teringat cerita-cerita sebelumnya.


Teknisi:

“Tapi saya ceritain Mbak sampai viral kan?”


Mbak:

“Iya Mas.”


Dia tertawa kecil.


Mbak:

“Sampai Jember.”


Saya langsung menoleh.


Teknisi:

“Serius sampai Jember?”


Mbak:

“Iya. Bahkan sampai ada yang marah juga inbox saya.”


Saya yang tadinya memegang obeng langsung berhenti.


Rasa penasaran muncul.


Teknisi:

“Siapa yang marah, Mbak?”


Dia menjawab santai.


Mbak:

“Pacar aku, Mas.”


Seketika saya diam.


Ada jeda beberapa detik.


Mungkin dia tidak sadar kalau satu kalimat sederhana itu membuat suasana di dalam hati saya berubah.


Dia melanjutkan.


Mbak:

“Aku kan asli orang Jember. Baru beberapa bulan di Cirebon.”


Saya hanya mengangguk kecil.


Ternyata...


Di tempat yang jauh dari sini, ada seseorang yang sedang menunggu kepulangannya.


Dan mungkin selama ini saya terlalu menikmati setiap kali dia datang ke konter.


Saya mencoba menganggapnya biasa saja.


Tapi hati kadang punya cara sendiri untuk mengakui sesuatu yang mulut tidak berani katakan.


Dalam hati saya tiba-tiba terlintas sebuah kalimat:


“Sebelum janur kuning melengkung, semua masih bisa diperjuangkan... dan garis takdir masih bisa berubah.”


Tapi setelah saya pikirkan lagi...


Tak semua yang kita kagumi harus kita miliki.


Tak semua yang membuat hati berdebar harus kita perjuangkan.


Karena di balik perasaan kita, ada hati orang lain yang juga harus dihargai.


Saya memilih tersenyum.


Lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.


Teknisi:

“Terus pacarnya bilang apa, Mbak?”


Mbaknya tersenyum.


Mbak:

“Katanya... ‘Aku cemburu, Dek.’”


Saya ikut tersenyum.


Hanya tersenyum.


Tidak bertanya lagi.


Karena kadang satu kalimat sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.


Saya kemudian kembali memeriksa HP.


Teknisi:

“Ini paling ganti tombolnya aja, Mbak. Tombolnya memang sudah rusak.”


Mbak:

“Ya sudah, benerin aja Mas.”


Teknisi:

“Ditungguin aja ya, Mbak. Paling bentar.”


Sebenarnya...


Pekerjaan itu tidak terlalu lama.


Mungkin kalau orang lain yang datang, sudah saya kerjakan secepat mungkin.


Tapi malam itu saya sengaja tidak terburu-buru.


Bukan karena HP-nya sulit.


Saya cuma belum ingin malam itu selesai.


Karena saya tahu...


Kalau HP itu sudah selesai, dia juga akan pergi.


Dan benar.


Tidak lama kemudian HP itu kembali normal.


Saya tes tombolnya satu per satu.


Semua sudah berfungsi.



Saya menyerahkan HP itu kepadanya.


Teknisi:

“Ini Mbak, sudah jadi.”


Mbak:

“Berapa Mas?”


Teknisi:

“Tiga puluh ribu aja, Mbak.”


Dia menyerahkan uangnya.


Mbak:

“Makasih ya, Mas.”


Teknisi:

“Sama-sama, Mbak.”


Saya sempat terdiam sebentar.


Lalu berkata,


“Kalau ada apa-apa tinggal WA aja ya, Mbak. Mau tanya-tanya apa saja juga boleh.”


Dia hanya tersenyum.


Senyum yang sederhana.


Tapi entah kenapa...


Malam itu senyum itu terasa berbeda.


Dia kemudian berdiri.


Memakai helm.


Menghidupkan motornya.


Brmmm...


Suara mesin motor mulai terdengar.


Saya masih berdiri di depan konter.


Mbak itu melambaikan tangan kecil.


Kemudian motornya mulai berjalan.


Pelan...


Semakin menjauh...


Lampu belakang motornya perlahan mengecil.


Suara mesinnya yang tadi terdengar jelas mulai samar.


Brmmm...


Semakin jauh...


Semakin kecil...


Sampai akhirnya...


hilang di ujung jalan.


Saya masih berdiri di sana.


Tidak langsung masuk.


Hanya memandangi jalan yang sudah kembali kosong.


Malam kembali sunyi seperti sebelum dia datang.


Saya akhirnya kembali ke dalam konter.


Motherboard yang tadi saya kerjakan masih tergeletak di meja.


Solder masih di tempatnya.


Pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.


Saya duduk kembali.


Mengambil solder.


Tapi sebelum mulai bekerja, saya sempat tersenyum sendiri.


Ternyata benar...


Ada orang yang datang hanya membawa HP rusak.


Kita perbaiki HP-nya dalam beberapa menit.


Lalu dia pulang.


Tapi yang dia tinggalkan di hati...


belum tentu bisa diperbaiki secepat itu.


Mungkin suatu hari dia akan datang lagi.


Mungkin juga tidak.


Karena hidup memang seperti itu.


Ada orang yang datang hanya sebentar...


Membuat malam yang sepi menjadi indah...


Lalu pergi lagi, meninggalkan kita bersama suara motornya yang semakin jauh.


Salam Kisah Teknisi

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama